BLOG GURU PAI

BLOG GURU PAI
Menggali potensi diri

Rabu, 26 Januari 2011

Manajemen Berbasis Sekolah


MANAJEMEN BERBASIS SEKOLAH
Oleh : Muhsoni ( NPM 2010-040-058)

I. Latar Belakang Manajemen berbasis sekolah
Manajemen Berbasis Sekolah (school based management) pertama kali muncul di Amerika Serikat. Latar belakangnya diawali dengan munculnya pertanyaan masyarakat tentang apa yang dapat diberikan sekolah kepada masyarakat dan juga apa relavansi dan  korelasi pendidikan dengan tuntutan kebutuhan masyarakat. Kinerja sekolah pada saat itu dianggap oleh masyarakat tidak sesuai dengan tuntutan siswa untuk terjun ke dunia usaha dan sekolah dianggap tidak mampu memberikan hasil dalam konteks kehidupan ekonomi yang kompetitif secara global.Fenomena tersebut oleh pemerintah,khususnya pihak sekolah dan masyarakat,segera diantisipasi dengan melakukan upaya perubahan dan penataan manajemen sekolah.
Di Hongkong, kemunculan MBS dilatarbelakangi kurang baiknya sistem pendidikan saat itu. Antara tahun 1960-an hingga 1970-an.
Menurut Chapman(1990) adalah suatu pendekatan politik yang bertujuan untuk meredisain pengelolaan sekolah, memberikan kekuasaan dan meningkatkan partisipasi sekolah, memperbaiki kinerja sekolah yang mencakup pimpinan sekolah, guru, siswa, orang tua siswa dan masyarakat sehingga sekolah lebih mandiri menentukan arah pengembangan sesuai kondisi dan tuntutan lingkungan masyarakatnya.[1]
Manajemen berbasis sekolah dinegara-nagara lain juga telah terbukti keefektifannya dalam meningkatkan kualitas sekolah. Suyanto (2001:87) mengemukakan banyak penelitian secara konklusif mendukung rasional evektifitas penggunaan manajemen pendidikan berbasis sekolah. Para peneliti tersebut antara lain : Amundson(1988),Burn dan Howers (1989), David dan Peterson(1984), English(1989), Levine dan Eubank (1989). Berbagai hasil penelitian mereka  memberikan dukungan bagi diterapkannya manajemen sekolah.
II.  Pembahasan
A. Pengertian  Manajemen Berbasis Sekolah
Manajemen adalah suatu proses atau kerangka kerja, yang melibatkan bimbingan atau pengarahan suatu kelompok orang-orang ke arah tujuan-tujuan organisasional atau maksud-maksud yang nyata.[2]
Manajemen juga dapat didefinisikan sebagai bekerja dengan orang-orang yang menentukan, menginterprestasikan, dan mencapai tujuan-tujuan organisasi dengan pelaksanaan fungsi-fungsi perencanaan (planning), pengorganisasian (organizing), penyusunan personalia atau kepegawaian (staffing), pengarahan dan kepemimpinan (leading) dan pengawasan (controlling).[3]
Berbasis memiliki kata dasar basis yang berarti dasar atau asas. Sekolah adalah lembaga untuk belajar dan mengajar serta tempat menerima dan memberikan pelajaran.
MBS adalah model pengelolaan sekolah dengan memberikan kewenangan yang lebih besar pada tingkat sekolah untuk mengelola sekolahnya sendiri secara langsung. Dimilikinya kewenangan sekolah itu karena terjadi pergeseran kekuasaan dari pemerintah pusat atau pemerintah daerah kepada sekolah langsung dalam pengelolaan sekolah. Dengan adanya kewenangan yang besar tersebut maka sekolah memiliki otonomi, tanggung jawab dan partisipasi dalam menentukan program-program sekolah.[4]
B. Alasan Diterapkan Manajemen Berbasis Sekolah
  1. Sekolah lebih mengetahui kekuatan, kelemahan, peluang, dan ancaman bagi dirinya sehingga sekolah dapat mengoptimalkan pemanfaatan sumber daya yang tersedia untuk memajukan sekolahnya.
  2. Sekolah lebih mengetahui kebutuhannya.
  3. Keterlibatan warga sekolah dan masyarakat dan masyarakat dalam pengambilan keputusan  dapat menciptakan transparansi dan demokrasi yang sehat
C. Tujuan Manajemen Berbasis Sekolah
  1. Menjamin mutu pembelajaran anak didik yang berpijak pada asas pelayanan dan prestasi hasil belajar.
  2. Meningkatkan kualitas transfer ilmu pengetahuan dan membangun karakter bangsa yang berbudaya
  3. meningkatkan mutu sekolah dengan memantapkan pemberdayaan melalui kemandirian, kreativitas, inisiatif dan inovatif dalam mengelola dan memberdayakan sumber daya sekolah
  4. meningkatkan kepedulian warga sekolah dan masyarakat dalam penyelenggaraan pendidikan melalui pengambilan keputusan dengan mengakomodir aspirasi bersama
  5. Meningkatkan tanggungjawab sekolah kepada orang tua, masyarakat dan pemerintah tentang mutu sekolah
  6. Meningkatkan kompetisi yang sehat antar sekolah tentang mutu pendidikan yang akan dicapai
D. Karakteristik Manajemen Berbasis Sekolah
  1. memiliki output (prestasi pembelajaran dan manajemen sekolah yang efektif) sebagaimana yang diharapkan
  2. evektifitas proses belajar mengajar yang tinggi
  3. peran kepala sekolah yang kuat dalam mengkoordinasikan, menggerakkan dan menyerasikan semua sumber daya pendidikan yang tersedia
  4. lingkungan dan ilkim belajar yang aman,tertib dan nyaman (enjoyable learning) sehingga manajemen sekolah lebih efektif
  5. analisis kebutuhan, perencanaan, pengembangan, evaluasi kinerja, hubungan kerja dan imbal jasa tenaga kependidikan dan guru sehingga mereka mampu menjalankan tugasnya dengan baik
  6. pertanggungjawaban  sekolah kepada publik terhadap keberhasilan program yang telah dilaksanakan
  7. pengelolaan dan penggunaan anggaran yang sepantasnya dilakukan oleh sekolah sesuai kebutuhan  riil [5]

E. Faktor-Faktor yang Perlu Diperhatikan
BPPN bekerja sama dengan Bank Dunia pada tahun1999 telah mengkaji beberapa faktor yang perlu diperhatikan sehubungan dengan manajemen berbasis sekolah, kebijakan dan prioritas pemerintah, peranan orang tua dan masyarakat, peranan profesionalisme dan manajerial, serta pengembangan profesi.
1.      Kewajiban Sekolah
 Manajemen berbasis sekolah yang menawarkan keleluasaan pangelolaan sekolah memiliki potensi yang besar dalam menciptakan kepala sekolah, guru dan pengelola sistem pendidikan profesional. Oleh karena itu, pelaksanaannya perlu disertai seperangkat kewajiban, serta monitoring dan tuntutan pertanggungjawaban (akuntabel) yang relatif tinggi, untuk menjamin bahwa sekolah selain memiliki otonomi juga mempunyai kewajiban melaksanakan kebijakan pemerintah dan memenuhi harapan masyarakat sekolah.dengan demikian , sekolah dituntut mampu menampilkan pengelolaan sumber daya secara transparan, demokratis, tanpa monopoli, dan bertanggung jawab baik terhadap masyarakat maupun pemerintah, dalam rangka meningkatkan kapasitas pelayanan terhadap peserta didik.
2.      Kebijakan dan Prioritas Pemerintah
Pemerintah sebagai penanggung jawab pendidikan nasional berhak merumuskan kebijakan-kebijakan yang menjadi prioritas nasional terutama yang berkaitan dengan program peningkatan melek huruf dan angka (literacy and numeracy), efisiensi, mutu, dan pemerataan pendidikan. Dalam hal-hal tersebut, sekolah  tidak diperbolehkan untuk berjalan sendiri dengan mengabaikan kebijakan dan standar yang ditetapkan oleh pemerintah yang dipilih secara demokratis.
Agar prioritas-prioritas pemerintah dilaksanakan oleh sekolah dan semua aktivitas sekolah ditujukan untuk memberikan pelayanan kepada peserta didik sehingga dapat belajar dengan baik, pemerintah perlu merumuskan seperangkat pedoman umum tentang pelaksanaan MBS. Pedoman-pedoman tersebut,terutama ditujukan untuk menjamin bahwa hasil pendidikan (student out comes) terevaluasi dengan baik, kebijakan-kebijakan-kebijakan pemerintah dilaksanakan secara efektif, sekolah dioperasikan dalam kerangka yang disetujui pemerintah, anggaran dibelanjakan sesuai dengan tujuan.
3.      Peranan Orangtua dan Masyarakat
MBS menuntut dukungan tenaga kerja yang terampil dan berkualitas untuk membangkitkan motivasi kerja yang lebih produktif dan memberdayakan otoritas daerah setempat, serta mengefisienkan sistem dan menghilangkan birokrasi yang tumpang tindih.[6]
Partsipasi masyarakat merupakan salah satu aspek penting dalam manajemen berbasis sekolah. Melalui dewan sekolah (sekolah council), orang tua dan masyarakat dapat berpartisipasi dalam pembuatan berbagai keputusan. Masyarakat dapat lebih memahami, serta mengawasi dan membantu sekolah dalam peengelolaan termasuk dalam kegiatan belajar-mengajar. Besarnya partisipasi masyarakat dalam pengelolaan sekolah tersebut, dapat menimbulkan rancunya kepentingan antara sekolah, orang tua dan masyarakat. Dalam hal ini pemerintah perlu merumuskan bentuk partispasi (pembagian tugas) setiap usur secara jelas  dan tegas.
4.      Peranan Profesionalisme Manajerial
Manajemen berbasis sekolah menuntut perubahan-perubahan tingkah laku kepala sekolah, guru dan tenaga administrasi dalam mengopersikan sekolah. Pelaksanaan MBS berpotensi meningkatkan gesekan  peranan yang bersifat profesional dan manajerial. Untuk memenuhi persyaratan pelaksanaan MBS, kepala sekolah, guru dan tenaga administrasi harus memiliki kedua sifat tersebut yaitu profesional dan manajerial.
5.      Pengembangan profesi
Perlu dikembangkan adanya pusat pengembangan profesi, yang berfungsi sebagai penyedia jasa pelatihan bagi tenaga kependidikan untuk MBS. Selain itu, penting untuk dicatat ahwa sebaiknya sekolah dan masyarakat perlu dilibatkan dalam proses pelaksanaan MBS sedini mungkin.
F.       Implementasi Manajemen Berbasis Sekolah
Untuk mengimplementasikan manajemen berbasis sekolah secara efektif dan efisien, kepala sekolah perlu memiliki pengetahuan kepemimpinan, perencanaan, dan pandangan yang luas tentang sekolah dan pendidikan.
Dalam rangka mengimplementasikan MBS secara efektif dan efisien, guru harus berkreasi dalam meningkatkan manajemen kelas. Guru adalah teladan dan panutan langsung para peserta didik di kelas. Oleh karena itu, guru perlu siap dengan segala kewajiban, baik manajemen maupun persiapan isi materi pengajaran.
a.   Strategi Implementasi MBS
Implementasi MBS akan berlangsung secara efektif dan efisien apabila didukung sember daya manusia yang profesional untuk mengoperasikan sekolah, dana yang cukup agar sekolah mampu menggaji staf sesuai dengan fungsinya,  sarana dan prasarana yang memadai untuk mendukung proses belajar mengajar, serta dukungan masyarakat (orang tua) yang tinggi.
1.      Pengelompokan Sekolah
Dalam hal ini sedikitnya akan ditemukan tiga kategori sekolah, yaitu baik, sedang dan kurang yang tersebar di lokasi-lokasi maju, sedang dan ketinggalan.


2.   Pentahapan Implementasi MBS
MBS dapat dilaksanakan paling tidak melalui 3 tahap yaitu jangka pendek (tahun pertama sampai tahu ketiga), jangka menengah (tahun keempat sampai tahun keenam), dan jangka panjang (setelah tahun keenam). Pelaksannan jangka pendek diprioritaskan pada sosialisasi MBS terhadap  masyarakat dan sekolah, pelatihan terhadap sumber daya manusia yang akan melaksanakan MBS dan mengalokasikan  dana block grant langsung kesekolah sebagai praktek pengelolaan keuangan dengan prinsip MBS.
b.   Prospek Gaji Guru dalam Manajemen Berbasis Sekolah
Guru merupakan pemeran utama proses pendidikan yang sangat menentukan tercapai tidaknya tujuan. Dalam menjalankan tugasnya, guru memerlukan kepastian karir dan insentif sebagai imbalan atas pekerjaannya. Sehubungan dengan itu, dalam rangka otonomi daerah dan desentralisasi pendidikan, perlu dididentifikasi urusan-urusan yang harus ditangani oleh pusat dan dilimpahkan ke daerah. Hal ini perlu dilakukan secara bertahap dan seselektif mungkin dengan mempertimbangkan secara arif  kepentingan-kepentingan berikut :
1.      Dunia pendidikan secara utuh dan menyeluruh berkenaan dengan perluasan kesempatan, peningkatan mutu, relevansi dan efisiensi
2.      Usaha menjaga Integritas, persatuan dan kesatuan nasional
3.      Keamanan psikologis guru dalam menjalankan tugasnya.[7]
III.   Kesimpulan
Dari pembahasan diatas penulis menyimpulkan beberapa hal sebagai berikut :
1.      munculnya MBS disebabkan pertanyaan masyarakat tentang tidak adanya relavansi dan  korelasi pendidikan dengan tuntutan kebutuhan masyarakat karena kinerja sekolah  dianggap oleh masyarakat tidak sesuai dengan tuntutan  dunia usaha dan masyarakat.
2.      MBS diharapkan mampu meningkatkan mutu sekolah dan mutu out put (prestasi pembelajaran dan manajemen sekolah yang efektif)
3.      MBS diharapkan dapat meningkatkan pemberdayaan melalui kemandirian, kreativitas, inisiatif dan inovatif dalam mengelola dan memberdayakan sumber daya sekolah
4.      Dengan MBS diharapkan evektifitas proses belajar mengajar meningkat








DAFTAR PUSTAKA

1.   E. Mulyasa, Manajemen Berbasis Sekolah, (Bandung;PT Remaja Rosdakarya, 2003), cet. Ke-5
2.   George R. Terry,Dasar-Dasar Manajemen, (Jakarta:PT Bumi Aksara, 2005), cet.ke-9
3.   Nurkolis, Manajemen Berbasis Sekolah, (Jakarta:PT Grasindo:2005), cet.ke-2,
4.   Syaiful Syagala,  Manajemen Berbasis Sekolah,( Nimas Multima, th 2006)
5.   T. Hani Handoko, Manajemen, (Yogyakarta:BPFE,2003), cet.ke-18, Jilid 2


       [1]Syaiful Syagala,  Manajemen Berbasis Sekolah,( Nimas Multima, th 2006), hal 129-130
       [2]George R. Terry,Dasar-Dasar Manajemen, (Jakarta:PT Bumi Aksara, 2005), cet.ke-9,h.1
       [3]T. Hani Handoko, Manajemen, (Yogyakarta:BPFE,2003), cet.ke-18, Jilid 2,h.10
       [4]Nurkolis, Manajemen Berbasis Sekolah, (Jakarta:PT Grasindo:2005), cet.ke-2, h.11
       [5]E. Mulyasa,  Manajemen Berbasis Sekolah, (Bandung:PT Remaja Rosdakarya, 2003), cet. Ke5
       [6]ibid
       [7]ibid

Rabu, 19 Januari 2011

Pemikiran Pendidikan Ibn Khaldun


ANALISIS PEMIKIRAN PENDIDIKAN IBN KHALDUN
Oleh : Muhshoni


I.         Pendahuluan
Pendidikan mempunyai arti penting bagi kehidupan manusia , juga diakui sebagai kekuatan yang dapat membantu masyarakat mencapai kemegahan dan kemajuan peradaban. Kejayaan Islam klasik, telah meninggalkan jejak kebesaran Islam di bidang ekonomi, politik, intelektualisme, tradisi-tradisi, keagamaan, seni, dan sebagainya, tidak terlepas dari dunia pendidikan, dan begitu pula dengan kemunduran pendidikan Islam, telah membawa Islam berkubang dalam kemunduran.
Dengan mempelajari kehidupan masa lalu umat islam, akan membantu untuk memahami sebab-sebab kemajuan dan kemunduran pendidikan Islam. Pemahaman tersebut dapat dijadikan pijakan dalam mengembangkan kesalahan-kesalahan pada masa lalu. Oleh karena itu, untuk mencapai kemajuan pendidikan Islam sekarang, dan memecahkan persoalan-persoalan pendidiksn Islam harus mendalami historical Islam, khususnya menyangkut dengan dunia pendidikan Islam.
    Pada dasarnya proses pendidikan sebenarnya telah berlangsung sepanjang sejarah berkembang  dengan perkembangan sosial-budaya manusia di permukaan bumi. Sejarah pendidikan Islam dan sejarah  para tokoh-tokoh pendidikan Islam dapat dikatakan berada dalam periode-periode Islam itu sendiri. Terkait dengan hal-hal yang telah diuraikan diatas penulis membahas pemikiran pendidikan Islam dan dalam makalah ini penulis memaparkan pemikiran pendidikan Islam Ibn Khaldun. 

II.         Pembahasan

a.        Biografi Ibn Khaldun
Ibn Khaldun nama lengkapnya adalah Abdur Rahman Abu Zayd Ibn Muhammad Ibn Khaldun ia dilahirkan pada tanggal 27 Mei 1332 di Tunisia. Ia berasal dari keluargs politisi, intelektual, dan aristokrat. Sebelum ia menyeberang ke Afrika keluarganya adalah anti-politik di Moorish,Spanyol selama beberapa abad. Latar belakang keluarga yang tampaknya mempengaruhi dan menentukan perkembangan pikirannya, dan telah mewariskan tradisi intelektual  ke dalam dirinya, sedangkan jatuh bangunnya dinasti-dinasti Islam terutama Dinasti Umayyah dan Abbasiyah memberikan kerangka berpikir dan teori-teori ilmu sosial serta filsafatnya
Salah satu karya beliau antara lain: Muqaddimah dan Sejarah Alam Semesta. Dalam hidupnya beliau selalu berpindah-pindah dan selalu menjadi orang penting dari satu tempat ke tempat lain, terakhir ia menjabat sebagai ketua Mahkamah Agung sampai ia meninggal pada tahun1406 dalam usia 74 tahun.[1]

b.  Pemikiran Dalam Bidang Pendidikan
Pemikiran Ibn Khaldun dalam bidang pendidikan meliputi tentang manusia didik, ilmu, metode pengajaran, dan spesialisasi. Dalam melihat manusia ia tidak terlalu menekankan kepada kepribadiannya akan tetapi kepada hubungannya dan interaksinya terhadap kelompok yang ada dalam masyarakat. Dalam konsep ini sering disebut sebagai salah satu pendiri sosiolaogi dan antropologi
Ibn Khaldun berpandangan bahwa manusia adalah makhluk yang berpikir. Oleh karena itu mampu melahirkan ilmu dan teknologi, dan sifat-sifat ini tidak dimiliki oleh makhluk lainnya.
Selanjutnya ia berpaendapat bahwa pertumbuhan pendidikan dan ilmu pengetahuan dipengaruhi oleh peradaban
Berkenaan dengan ilmu pengetahuan Ibn Khaldun membagi menjadi tiga macam yaitu ilmu lisan, ilmu naqli dan ilmu aqli
Dalam metode pengajaran Ibn Khaldun menggunakan metode berangsur-angsur,setapak demi setapak dan sedikit demi sedikit. Dan ia menganjurkan agar seorang itu bersikap sopan dan halus pada muridnya, hal ini juga termasuk sikap orang tua terhadap anaknya, karena orang tua adalah guru utama bagi anaknya.[2] Guru harus mampu menarik perhatian muridnya , menjaga mereka hingga pikiran mereka terbuka dan berkembang sendiri.Guru harus membiasakan perilaku yang baik kepada murid-muridnya, memberi contoh, dan tidak mengajari mereka dengan perkataan saja. Seorang guru harus menjadi contoh bagi murid-muridnya.[3] Menurut Ibn Khaldun keahlian adalah sifat dan corak jiwa tidak dapat tumbuh serempak.
Dari beberapa uraian diatas, terlihat bahwa Ibn Khaldun adalah seorang tokoh filsuf, dan juga sebagai tokoh sosiolog yang memiliki perhatian yang sangat besar terhadap pendidikan, konsep pendidikannya sangat dipengaruhi oleh pandangannya terhadap manusia sebagai makhluk yang harus dididik dalam rangka melaksanakan fungsi sosialnya ditengah-tengah masyarakat.
Pemikirannya dalam bidang pendidikan bermula dari presentasi ensiklopedia ilmu pengetahuannya. Hal ini merupakan jalan untuk membuka teori tentang pengetahuan dan presentasi umum mengenai sejarah sosial dan epitomologi berdasarkan perkembangan ilmu pengetahuan.Menurut Ibnu Khaldun, ilmu pengetahuan mengelompokkan ilmu pengetahuan menjadi dua macam, yakni; pengetahuan rasional dan pengetahuan tradisional. Pengetahuan rasional adalah pengetahuan yang diperoleh dari kebaikan yang berasal dari pemikiran yang alami. Sedangkan pengetahuan tradisional merupakan pengetahuan yang subjeknya, metodenya, dan hasilnya, serta perkembangan sejarahnya dibangun oleh kekuasaan atau seseorang yang berkuasa.
c. Konsep atau tujuan pendidikan
Pendidikan menurut Ibnu Khaldun adalah mentransformasikan nilai-nilai yang diperoleh dari pengalaman untuk dapat memepertahankan eksistensi manusia dalam peradaban masyarakat. Pendidikan adalah upaya melestarikan dan mewariskan nilai-nilai yang ada dalam masyarakat agar masyarakat tersebut bisa tetap eksis.Pemikiran Ibnu Khaldun dalam hal pendidikan ia tuangkan dalam karya monumentalnya yang dikenal dengan sebutan Muqaddimah. Sebagai seorang filsuf muslim pemikirannya memanglah sangat rasional dan berpegang teguh pada logika. Corak ini menjadi pijakan dasar baginya dalam membangun konsep-konsep pendidikan. Menurutnya paling tidak ada tiga tujuan yang hendak dicapai oleh pendidikan Islam, yaitu peningkatan kecerdasan dan kemampuan berpikir, peningkatan segi kemasyarakatan manusia, peningkatan segi kerohanian manusia. Sehingga diharapkan pendidikan Islam mampu menciptakan manusia yang siap menghadapi berbagai fenomena social yang ada disekitarnya.
d.  Kurikulum dan Materi Pendidikan
Pengertian kurikulum pada masa Ibnu Khaldun masih terbatas pada maklumat-maklumat dan pengetahuan yang dikemukakan oleh guru atau sekolah dalam bentuk mata pelajaran yang terbatas atau dalam bentuk kitab-kitab tradisional yang tertentu, yang dikaji oleh murid dalam tiap tahap pendidikan. Sedangkan pengertian kurikulum modern, telah mencakup konsep yang lebih luas yang di dalamnya mencakup empat unsur pokok yaitu: Tujuan pendidikan yang ingin dicapai, pengetahuan-pengetahuan, maklumat-maklumat, data kegiatan-kegiatan, pengalaman-pengalaman dari mana terbentuknya kurikulum itu, metode pengajaran serta bimbingan kepada murid, ditambah metode penilaian yang dipergunakan untuk mengukur kurikulum dan hasil proses pendidikan. Dalam pembahasannya mengenai kurikulum Ibnu Khaldun mencoba membandingkan kurikulum-kurikulum yang berlaku pada masanya, yaitu kurikulum pada tingkat rendah yang terjadi di negara-negara Islam bagian Barat dan Timur. Kurikulum pendidikan yang diajarkan kepada peserta didik dalam pemikiran Ibnu Khaldun meliputi tiga hal, yaitu: pertama, kurikulum sebagai alat bantu pemahaman (ilmu bahasa, ilmu nahwu, balagah dan syair). Kedua, kurikulum sekunder yaitu matakuliah untuk mendukung memahami Islam (seperti logika, fisika, metafisika, dan matematika). Ketiga kurikulum primer yaitu inti ajaran Islam (ilmu Fiqh, Hadist, Tafsir, dan sebagainya).
Adapun pandangannya mengenai materi pendidikan, karena materi adalah merupakan salah satu komponen operasional pendidikan, maka dalam hal ini Ibnu Khaldun telah mengklasifikasikan ilmu pengetahuan yang banyak dipelajari manusia pada waktu itu menjadi dua macam yaitu:
1. Ilmu-ilmu tradisional (Naqliyah)
Ilmu naqliyah adalah yang bersumber dari al-Qur’an dan Hadits yang dalam hal ini peran akal hanyalah menghubungkan cabang permasalahan dengan cabang utama, karena informasi ilmu ini berdasarkan kepada otoritas syari’at yang diambil dari al-Qur’an dan Hadits.
Ibn Khaldun menyusun ilmu-ilmu naqli sesuai dengan manfaat dan kepentingannya bagi peserta didik kepada beberapa ilmu, yaitu :
1.      Al-Quran dan Hadits
2.      Ulum al-Quran
3.      Ulum Hadits
4.      Ushul Fiqh
5.      Fiqh
6.      Ilm al-Kalam
7.      Ilm al-Tasawuf
8.      Ilm al-Ta’bir Ru’ya[4]
Menurutnya,Al-quran adalah ilmu yang pertama kali harus diajarkan kepada anak. Al-Quran mengajarkan kepada anak tentang syariat Islam yang dipegang teguh oleh para ahli agama dan dijunjung tinggi oleh setiap umat Islam[5]
Ilmu-ilmu naqli hanya ditujukan untuk dipelajari pemeluk Islam. Walaupun dalam setiap agama sebelumnya ilmu-ilmu tersebut telah ada, akan tetapi berbeda dengan yang tedapat dalam Islam. Dalam Islam, eksistensi ilmu berfungsi menasakhkan ilmu-ilmu dari setiap agama yang lalu dan mengembangkan kebudayaan manusia secara dinamis[6]

2.      Ilmu-ilmu filsafat atau rasional (Aqliyah)
Ilmu ini bersifat alami bagi manusia, yang diperolehnya melalui kemampuannya untuk berfikir. Ilmu ini dimiliki semua anggota masyarakat di dunia, dan sudah ada sejak mula kehidupan peradaban umat manusia di dunia.
Ilmu aqli di bagi menjadi empat kelompok, yaitu :
1.      Ilmu Logika (Mantiq)
2.      Ilmu Fisika ; termasuk di dalamnya ilmu kedokteran dan ilmu Pertanian
3.      Ilmu Metafisika (Il-al Ilahiyat)
4.      Ilmu Matematika termasuk di dalamnya ilmu Geografi, Aritmatka dan al-Jabar, ilmu Musik, ilmu astronomi dan ilmu Nujum[7]
. Walaupun Ibnu Khaldun banyak membicarakan tentang ilmu geografi, sejarah dan sosiologi, namun ia tidak memasukkan ilmu-ilmu tersebut ke dalam klasifikasi ilmunya.
Ibnu Khaldun membagi ilmu berdasarkan kepentingannya bagi anak didik menjadi empat macam, yang masing-masing bagian diletakkan berdasarkan kegunaan dan prioritas mempelajarinya. Empat macam pembagian itu adalah:
1. Ilmu agama (syari’at), yang terdiri dari tafsir, hadits, fiqh dan ilmu kalam.
2. Ilmu ‘aqliyah, yang terdiri dari ilmu kalam, (fisika), dan ilmu Ketuhanan (metafisika)
3. Ilmu alat yang membantu mempelajari ilmu agama (syari’at), yang terdiri dari ilmu bahasa Arab, ilmu hitung dan ilmu-ilmu lain yang membantu mempelajari agama.
4. Ilmu alat yang membantu mempelajari ilmu filsafat, yaitu logika.

e.   Metode Pendidikan
Pandangan Ibnu Khaldun tentang metode pengajaran merupakan bagian dari pembahasan pada buku Muqaddimahnya. Sebagaimana kita ketahui dalam sejarah pendidikan Islam dapat kita simak bahwa dalam berbagai kondisi dan situasi yang berbeda, telah diterapkan metode pengajaran. Dan metode yang dipergunakan bukan hanya metode mengajar bagi pendidik, melainkan juga metode belajar yang harus digunakan oleh anak didik. Hal ini sebagaimana telah dibahas Ibnu Khaldun dalam buku Muqaddimahnya.
Didalam memberikan pengetahuan kepada anak didik, pendidik hendaknya memberikan problem-problem pokok yang bersifat umum dan menyeluruh, dengan memperhatikan kemampuan akal anak didik.Kedua:Setelah pendidik memberikan problem-problem yang umum dari pengetahuan tadi baru pendidik membahasnya secara lebih detail dan terperinci.Ketiga:Pada langkah ketiga ini pendidik menyampaikan pengetahuan kepada anak didik secara lebih terperinci dan menyeluruh, dan berusaha membahas semua persoalan bagaimapaun sulitnya agar anak didik memperoleh pemahaman yang sempurna. Demikian itu metode umum yang ditawarkan Ibnu Khaldun di dalam proses belajar mengajar.
Ibnu Khaldun juga menyebutkan keutamaan metode diskusi, karena dengan metode ini anak didik telah terlibat dalam mendidik dirinya sendiri dan mengasah otak, melatih untuk berbicara, disamping mereka mempunyai kebebasan berfikir dan percaya diri. Atau dengan kata lain metode ini dapat membuat anak didik berfikir reflektif dan inovatif. Lain halnya dengan metode hafalan, yang menurutnya metode ini membuat anak didik kurang mendapatkan pemahaman yang benar. Disamping metode yang sudah disebut di atas Ibnu Khaldun juga menganjurkan metode peragaan, karena dengan metode ini proses pengajaran akan lebih efektif dan materi pelajaran akan lebih cepat ditangkap anak didik. Satu hal yang menunjukkan kematangan berfikir Ibnu Khaldun, adalah prinsipnya bahwa belajar bukan penghafalan di luar kepala, melainkan pemahaman, pembahasan dan kemampuan berdiskusi. Karena menurutnya belajar dengan berdiskusi akan menghidupkan kreativitas pikir anak, dapat memecahkan masalah dan pandai menghargai pendapat orang lain, disamping dengan berdiskusi anak akan benar-benar mengerti dan paham terhadap apa yang dipelajarinya.
f. . Pendidik
Pendidik dalam pandangan Ibnu Khaldun haruslah orang yang berpengetahuan luas, dan mempunyai kepribadian yang baik. Karena pendidik selain sebagai pengajar di dalam kelas, pendidik juga harus bisa menjadi contoh atau suri tauladan bagi peserta didiknya. Ibnu Kholdun menganjurkan agar para guru bersikap dan berperilaku penuh kasih sayang kepada peserta didiknya, mengajar mereka dengan sikap lembut dan saling pengertian, tidak menerapkan perilaku keras dan kasar, sebab sikap demikian dapat membahayakan peserta didik, bahkan dapat merusak mental mereka, peserta didik bisa menjadi berlaku bohong, malas dan bicara kotor, serta berpura-pura, karena didorong rasa takut dimarahi guru atau takut dipukuli. Dalam hal ini, keteladanan guru yang merupakan keniscayaan dalam pendidikan, sebab para peserta didik menurut Ibnu Kholdun lebih mudah dipengaruhi dengan cara peniruan dan peneladanan serta nilai-nilai luhur yang mereka saksikan, dari pada yang dapat dipengaruhi oleh nasehat, pengajaran atau perintah-perintah.
g.   Peserta didik
Sedangkan konsepnya mengenai peserta didik, bahwa peserta didik merupakan orang yang belum dewasa dan memiliki potensi. Maka dari itu peserta didik membutuhkan bimbingan orang dewasa untuk mengembangkan potensi ke arah yang lebih baik dengan potensi dan fitrah yang telah ada. Peserta didik ibarat wadah yang siap untuk di beri pengetahuan yang baru.[8]

III.      Kesimpulan
Dari uraikan makalah di atas penulis menyimpulkan hal-hal sebagai berikut :
1.      Ibn Khaldun di kenal sebagai salah satu pendiri sosiolaogi dan antropologi.
2.      Pemikiran Ibn Khaldun dalam bidang pendidikan meliputi tentang manusia didik, ilmu, metode pengajaran, dan spesialisasi.
3.      Ibnu Khaldun membagi ilmu berdasarkan kepentingannya bagi anak didik menjadi dua macam ; Ilmu Naqliyah (Al-Quran dan Hadits,Ulum al-Quran, Ulum Hadits, Ushul Fiqh, Fiqh, Ilm al-Kalam, Ilm al-Tasawuf, Ilm al-Ta’bir Ru’ya) dan Ilmu Aqliyah (Ilmu Logika, Ilmu Fisika, Ilmu Metafisika, Ilmu Matematika )
4.      Didalam memberikan pengetahuan kepada anak didik, pendidik hendaknya dengan memperhatikan kemampuan akal anak didik.
5.      Pendidik dalam pandangan Ibnu Khaldun haruslah orang yang berpengetahuan luas, dan mempunyai kepribadian yang baik. Karena pendidik selain sebagai pengajar di dalam kelas, pendidik juga harus bisa menjadi contoh atau suri tauladan bagi peserta didiknya.
6.      konsep Ibn Khaldun mengenai peserta didik, bahwa peserta didik merupakan orang yang belum dewasa dan memiliki potensi, Peserta didik ibarat wadah yang siap untuk di beri pengetahuan yang baru.

DAFTAR PUSTAKA
Abd. Al-Rahman Ibn Khaldun, Muqaddimah Ibn khaldun, Tahqiq ali Abd. Al-Wahid Wafi. (Cairo : Dar al-Nahdhah, t.th.) jilid 1
Abudin Nata, Filsafat Pendidikan Islam
Ahamad Fuad al-ahwani, al-Tarbiyah fi al-Islam (Mesir : Dar al-Maarif)
Fuad Baali, dan Ali Wardi. Ibnu Khaldun dan Pola Pemikiran Islam. alih bahasa Osman Ralibi.( Jakarta: Pustaka Firdaus. 1989).
Husayn Ahmad Amin, Seratus Tokoh dalam Sejarah Islam,(Bandung: Remaja Rosdakarya, 1995), cet-1
Nashruddin Thoha,.Tokoh-tokoh Pendidikan Islam di Jaman Jaya. (Jakarta: Mutiara. 1979).
Ramayulis, Filsafat Pendidikan Islam (Jakarta, Kalam Mulia : 2009) cet. Ke-1
Suwito, Sejarah Sosial Pendidikan Islam,(Jakarta: Kencana,2008), cet. 2.


[1] Abudin Nata, Filsafat Pendidikan Islam,h. 173
[2] Suwito, Sejarah Sosial Pendidikan Islam,(Jakarta: Kencana,2008), cet. 2 h. 87
[3] Husayn Ahmad Amin, Seratus Tokoh dalam Sejarah Islam,(Bandung: Remaja Rosdakarya, 1995), cet-1 h. 243-244  
[4] Ramayulis, Filsafat Pendidikan Islam (Jakarta, Kalam Mulia : 2009) cet. Ke-1 h. 285
[5] Ahamad Fuad al-ahwani, al-Tarbiyah fi al-Islam (Mesir : Dar al-Maarif,t th.) h.218
[6] Abd. Al-Rahman Ibn Khaldun, Muqaddimah Ibn khaldun, Tahqiq ali Abd. Al-Wahid Wafi. (Cairo : Dar al-Nahdhah, t.th.) jilid 1 h. 1027
[7] Ramayulis, Op Cit. H 283

Minggu, 16 Januari 2011

Ilmu I'jaz Al-quran


ILMU I’JAZ AL-QUR’AN
Oleh : Muhshoni


A.  Pendahuluan
Allah SWT telah menganugerahkan kepada manusia berbagai keistimewaan dan kelebihan serta memberinya kekuatan berfikir cemerlang yang dapat menundukkan unsur-unsur kekuatan alam dan menjadikannya sebagai pelayan bagi kepentingan manusia dan Allah SWT memberikan  bimbingan dari waktu ke waktu kepada manusia melalui sebersit wahyu sebagai petunjuk menempuh hidup dan kehidupan ini atas dasar keterangan dan pengetahuan. Namun watak manusia yang sombong dan angkuh terkadang menolak untuk tunduk kepada manusia lain yang serupa dengannya selama manusia lain itu tidak membawa kepadanya sesuatu yang tidak disanggupinya hingga ia mengakui, tunduk dan percaya akan kemampuan manusia lain itu yang tinggi dan berada di atas kemampuannya sendiri.
Dalam konteks inilah rasulullah Muhammad  diberi wahyu yakni Al-qur’an dengan segala ilmu pengetahuan yang dikandungnya serta segala beritanya tentang masa lalu dan masa yang akan datang. Akal manusia, betapapun majunya, tidak akan sanggup menandingi al-qur’an. Al-qur’an adalah mukjizat aqliyah,mukjizat bersifat rasional, yang berdialog dengan akal manusia dan menantangnya untuk selamanya.



B.     Pembahasan
1.            Pengertian
Menurut bahasa I’jaz berasal dari akar kata a’jaza yu’jizu yang artinya menjadikan lemah. Kata i’jaz satu akar kata dengan mu’jizat[1]. Kelemahan menurut pengertian umum adalah ketidakmampuan melakukan sesuatu,lawan dari kemampuan. Yang dimaksud dengan I’jaz dalam pembicaraan ini ialah menampakkan kebenaran nabi dalam pengakuannya sebagai rasul dengan menampakkan kelemahan orang Arab untuk menghadapi mukjizatnya yang abadi, yaitu Al-qur’an , dan kelemahan generasi-generasi sesudah mereka.[2]
Sifat dari sesuatu yang melemahkan (mu’jiz) tentunya berasal dari Allah, secara langsung atau tidak .Mu’jiz juga harus berupa sesuatu  yang menyalahi aturan kebiasaan yang khusus dimiliki oleh orang yang memperlihatkan sesuatu yang melemahkan itu (mu’jiz), harus sulit dilakukan manusia untuk melakukan hal yang sama, baik jenis ataupun sifatnya, dan harus dimiliki oleh orang yang mengaku mendapatkan kenabian yang hanya dapat dipercayai, maka apa saja yang memiliki sifat-sifat ini kami mengatakannya sebagai sesuatu yang melemahkan (mukjizat) dari segi istilah.[3]


2.      Kadar  Kemukjizatan al-Qur’an
1.      Golongan Mu’tazilah berpendapat bahwa kemukjizatan  itu berkaitan dengan keseluruhan al-qur’an, bukan dengan sebagiannya, atau denagn setiap surahnya secara lengkap.
2.      Sebagian ulama berpendapat, sebagian kecil atau sebagian besar dari al-qur’an, tanpa harus satu surah penuh, juga merupakan mukjizat, berdasarkan firman Allah:
      Maka hendaklah mereka mendatangkan kalimat yang semisal dengan al-quran...”(at-Tur[52]:34).
3.  Ulama yang lain berpendapat, kemukjizatan itu cukup hanya dengan satu surah lengkap sekalipun pendek, atau dengan ukuran satu surah, baik satu ayat atau beberapa ayat.
3.      Aspek Kemukjizatan al-qur’an
Aspek-aspek kemukjizatan dalam al-qur’an menurut Manna khalil al Qattan dalam bukunya  Al-Mabahits fi al –Ulum al-Quran adalah :
a.       Kemukjizatan Bahasa
Kemukjizatan  bahasa al-qur’an terdapat pada keteraturan bunyinya yang indah melalui nada huruf-hurufnya  ketika kita mendengar harakat dan sukun-nya, mad dan ghunnah-nya, fashilah dan maqta-nya, sehingga telinga kita tidak pernah bosan , bahkan ingin senantiasa terus mendengarnya
Kemukjizatan itu pun dapat kita temukan dalam lafadz-lafadznya yang memenuhi hak setiap makna pada tempatnya. Tidak satupun diantara  lafaz-lafaz itu yang dikatakan sebagai kelebihan. Juga tak ada seorang peneliti terhadap suatu tempat(dalam al-qura’an) yang menyatakan bahwa pada tempat itu perlu ditambahkan sesuatu lafaz karena ada kekurangan.
Ada alasan (mengapa mukjizat berupa teks bahasa), sebab bangsa Arab pandai berbahasa dan bersilat lidah, sebagaimana ada alasan bagi munculnya mukjizat nabi Isa as, karena banyak ahli kedokteran; dan bagi nabi Musa as karena banyak tukang sihir. Allah SWT menciptakan mukjizat-mukjizat para nabi, menghadapi kepandaian populer, sebagai bentuk keahlian yang paling diunggulkan pada zaman di mana nabi akan diutus. Ilmu sihir pada masa nabi Musa telah mencapai puncaknya . Demikian pula ilmu kedokteran pada masa nabi Isa as. Dan kemampuan berbahasa pada masa nabi Muhammad SAW.[4]
Kemukjizatan juga dapat kita temukan dalam dalam macam-macam khitab dimana berbagai golongan manusia yang berbeda tingkat intelektualitasnyadapat memahami khitab itu sesuai dengan tingkatan akalnya, sehingga masing-masing dari mereka memandangnya cocok dengan tingkatan akalnya dan sesuai dengan keperluannya, baik mereka orang awam maupun kalangan ahli
Dari segi uslub/susunan , al-Quran memiliki uslub yang begitu menakjubkan berbeda dengan uslub/susunan ucapan manusia, diantara keistimewaan itu adalah :
1.      Kelembutan Al-Quran secara lafzhiah  yang terdapat dalam susunan suara dan keindahan bahasanya.
2.      Keserasian A-Quran baik untuk awam maupun kaum cendekiawan dalam arti bahwa semua orang dapat merasakan keagungan dan keindahan  al-Quran.
3.      Sesuai dengan akal dan perasaan, dimana al-Quran memberikan doktrin  pada akal dan hati, serta merangkum kebenaran dan keindahan sekaligus.
4.      Keindahan sajian Al-Quran serta susunan bahasanya, seolah-olah merupakan suatu bingkai yang dapat memukau akal dan memusatkan tanggapan serta perhatian.
5.      Keindahannya dalam liku-liku ucapan atau kalimat serta beraneka-ragam dalam bentuknya, dalam arti bahwa satu makna diungkapkan dalam beberapa lafazh dan susunan yang bermacam-macam, yang semuanya indah dan halus.
6.      Al_Quran mencakup dan memenuhi persyaratan antara bentuk global dan bentuk yang terperinci (bayan).
7.      Dapat dimengerti sekaligus dengan melihat segi yang tersurat ( yang dikemukakan)[5]
Demikian pula kemukjizatan ditemukan dalam sifatnya yang dapat memuaskan akal dan menyenangkan perasaan. Al-qur’an dapat memenuhi kebutuhan jiwa manusia, pemikiran maupun perasaan, secara sama dan berimbang. Kekuatan pikir tidak akanmenindas kekuatan rasa dan kekuatan rasa pun tidak pula akan menindas kekuatan pikir.[6]
b. Kemukjizatan Ilmiah
Kemukjizatan ilmiah qur’an bukanlah terletak pada pencakupannya akan teori-teori ilmiah yang selalu baru dan berubah serta merupakan hasil usaha manusia dalam penelitian dan pengamatan. Tetapi ia terletak pada dorongannya untuk berpikir dan menggunakan akal. Qur’an mendorong manusia agar memperhatikan dan memikirkan alam. Ia tidak mengebiri aktivitas dan kreatifitas akal dalam memikirkan alam semesta, atau menghalanginya dari penambahan ilmu pengetahuan yang dapat dicapainya. Dan tidak ada sebuah pun dari kitab-kitab agama terdahulu memberikan jaminan demikian seperti yang diberikan oleh Qur’an
Semua persoalan atau kaidah ilmu pengetahuan yang telah mantap dan meyakinkan, merupakan manifestasi dari pemikiran valid yang dianjurkan Qur’an, tidak ada pertentangan sedikitpun dengannya. Ilmu pengetahuan telah maju dadn telah banyak pula masalah-masalahnya, namun apa yang telah tetap dan mantap daripadanya tidak bertentangan sedikitpun dengan salah satu ayat-ayat Qur’an. Ini saja sudah merupakan kemukjizatan.
Al-Qur’an menjadikan pemikiran yang lurus dan perhatian yang tepat terhadap alam dan segala apa yang ada didalamnya sebagai sarana terbesar untuk beriman kepada Allah.
c.      Kemukjizatan Tasyri’
Umat manusia telah mengenal, di sepanjang masa sejarah, berbagai macam doktrin, pandangan, sistem dan tasyri (perundang-undangan) yang bertujuan tercapainya kebahagiaan individu di dalam masyarakat yang utama. Namun tidak satupun daripadanya yang mencapai keindahan dan kebesaran seperti yang dicapai Qur’an dalam kemukjizatan tasyri’nya
Aspek kemukjizatan al-quran menurut Nasr Hamid Abu Zaid adalah sebagai berikut :
a.             Kemukjizatan di luar teks
b.            Kemukjizatan di dalam teks
c.             Kemukjizatan di dalam bahasa[7]

4.  Contoh ayat dan penafsirannya
Diantara contoh-contoh gaya bahasa al-Quran yang mempesona  terkait dengan i’jaz al-Quran adalah sebagai berikut :
$Y6øŠx© â¨ù&§9$#@yètGô©$#ur    
kalimat di atas adalah penggalan ayat al-Quran surah Maryam ayat 4[8] yang makna harfiahnya “...dan kepala telah menyala putih beruban”. Kata-kata isti’arah (metafor) tidak mungkin maknanya sebelum orang mengenal  nadzm (puisi) dan sebelum orang memahami hakikatnya. Kecermatan dan kerahasiaan kata-kata itu antara lain ialah: Jika anda mendengar orang membaca firman Allah wasyta’ alar- ra’su syaiban (Dan kepala telah menyala putih beruban), kalimat itu tentu hanya dipandang sebagai kata-kata isti’arah yang memiliki keistimewaan, tanpa tahu sebab yang keistimewaan itu. Tapi sebenarnya inti persoalan tidak terletak pada sifat istimewanya. Kata-kata yang mengesankan itu bukanlah semata-mata karena bersifat isti’arah, melainkan karena Al-Qur’an menggunakan kata kerja (fi’il, yaitu menyala”) kepada sesuatu yang menjadi sebabnya, yaitu kata “kepala”. Dengan demikian kata yang menjadi sandaran, yaitu “kepala menurut kaidah ilmu nahwu hukumnya marfu’ (huruf akhirnya berdhammah). Sedangkan kata sesudah “kepala”, yaitu kata syaiban (memutih beruban), yang dalam kaitan makna berkedudukan sebagai objek kata kerja “menyala”, hukumnya manshub (huruf akhirnya berfathah). Hal itu untuk menegaskan hubungan kata yang menjadi sandaran (kepala) dengan kata kerja (menyala), dan untuk menjelaskan hubungan antara “kepala” dan kata “memutih beruban”. Selain itu juga disebabkan oleh adanya kaitan antara kata yang satu dengan kata yang lain, sebagaiman ayang sering terdenngar dari pembicaraan orang Arab. Misalnya Thaaba Zaidun Nafsan (Zaid merasa lega); qarra ‘Amr ‘ainan (‘Amr melihat pandangan yang menyenangkan); tashabbaba ‘arqan  (keringat bercucuran);  karuma ashlan (asal keturunan mulia); hasuna wajhan (baik paras mukanya) dan lain sebagainya. Di dalam kalimat-kalimat seperti itu anda menemukan fi’il (kata kerja) yang dipindahkan dari dari kedudukan yang satu kepada kedudukan yang lain dan itulah yang menjadi sebabnya. Juga kita bisa tahu dari makna susunan kalimat. Kata “menyala” pasti bermakna “memutih beruban”, kendatipun kata kerja “menyala” itu hanya dikaitkan dengan kata “kepala”. Demikian juga kaitan antara kata-kata pada beberapa contoh kalimat tersebut di atas, seperti kaitan antara kata thaaba dan nafsan; antara qarra dan ‘ainan; antara tashabbaba  dan ‘arqan dan seterusnya.
Setelah menjelaskan masalah tersebut diatas, ‘Abdu Qahir Al Jirjani berkata lebih lanjut:
“Seumpama anda membaca isyta’alar-ra’su wasy syaibu fir-ra’si kemudian anda perhatikan susunan kalimatnya apakah anda menemukan keindahan di dalamnya? Apakah cukup cemerlang seperti pada kalimat wasyta’alar-ra’su syaiban? Jika anda bertanya : apa sebab kata isyta’alaa (menyala yang dipinjam untuk melukiskan makna syaiban (memutih beruban/dalam bentuk seperti itu terasa lebih indah dan kenapa hal itu lebih menerangkan keistimewaan dibanding bentuk kalimat lain? Jawabnya ialah karena kata “menyala”memberi pengertian tentang “rambut yang memutih beruban” pada kepala, dan itulah makna pokoknya, yaitu bahwa warna putih telah merata pada seluruh bagian kepala, sehingga tak sehelaipun rambut berwarna hitam yang tertinggal. Lain sekali dengan kalimat isyta’ala syaibur ra’si (telah menyala keputihan rambut kepala), atau isyta’alasy syaibu fir ra’si (telah menyala keputihan rambut dikepala). Kalimat demikian itu tidak mengadung keindahan. Cobalah bandingkan dengan kalimat isyta’alal baitu naaran (rumah telah menyala oleh api. Kalimat di atas bermakna ahwa api membakar semua bagian rumah.. Tapi kalau kalimat isyta’alatin naaru fil baiti (api menyala di rumah), itu berarti : ada api di rumah atau membakar sebagian rumah. Kalimat itu sama sekali tidak bermakna bahwa kobaran api telah merata ke semua bagian rumah.[9]

5.  Tokoh-tokoh penulis al-Quran
1.      AL-RUMMANI
            Di antara pemikir itu adalah al-Rummani, pengarang kitab al-Nukat fi I’jaz al-Quran, salah satu karya ilmiah pertama yang menggunakan kata i’jaz dalam judulnya. Masalah utama yang dibahas dalam buku itu adalah pembuktian keunikan balaghah al-quran. Al-Rummani yang berpaham mu’tazilah berpandangan bahwa ide i’jaz memiliki tujuh segi, yaitu:
1.      Tidak tertandinginya al-Quran, meski banyak faktor yang mendorong untuk menandinginya.
2.      Tantangan al-Quran yang berlaku untuk umum.
3.      Al-Shorfah, yakni Allah memalingkan manusia dari menandingi al-Quran.
4.      Balaghah al-Quran, yaitu kefasihan dan pengaruh estetikanya yang efektif.
5.      Terdapatnya informasi dan berita yang benar tentang peristiwa masa depan.
6.      Karakter al-Quran yang menyalahi kebiasaan, bukan puisi bukan prosa.
7.      Pembandingan al-Quran dengan segala mukjizat yang pernah dikenal oleh agama lain.
                Al-Rummani tidak menjelaskan secara rinci dan panjang lebar ketujuh segi i’jaz tersebut kecuali tentang balaghah al-Quran. Pertama ia mendefinisikan balaghah sebagai berikut: “penyampaian makna ke dalam hati dalam bentuk lafal yang paling indah. Kemudian dilanjutkan dengan menyebutkan unsur-unsur balaghah yang berjumlah sepuluh, yaitu: a) al-ijaz, b) al-Tasybih, c) al-istiarah, d) al-Ta’alum, e) al-Fawashil, f) al-Tajanus, g) al-Tashrif, h) al-Tadhmin, i) al-Mubalaghah, j) Husn al-bayan
2.   AL-KHATABI (w. 388 H/998 M)
                   Ulama Sunni ini hidup semasa dengan al-Rummani, ia menolak pemikiran al-Sharfah sebagai segi i’jaz al-quran, sebagaimana yang ia ungkapkan dalam kitabnya Bayan I’jaz al-Quran. Al-sharfah berarti bahwa manusia sebenarnya mampu membuat yang semisal dengan al-Quran, namun dipalingkan oleh Allah untuk melakukan hal itu. Demikian juga dengan berita masa depan, ia tidak menganggapnya sebagai segi i’jaz. Al-Khatabi menerima ide keunikan balaghah al-Quran sebagai segi i’jaz. Dia mengatakan bahwa perkataan itu memiliki tiga unsur, yaitu:
1).lafal pemangku,
2) makna yang berdiri padanya,
3) sistem pertalian antar keduanya yang merangkai.
            Dia meyakini bahwa manusia tidak akan mampu menandingi al-Quran. Karena al-Quran itu tersusun dari lafal-lafal yang paling fasih, paling kuat, dan paling lembut. Makna-maknanya sangat maju sesuai dengan topiknya, dan strukturnya tidak terungguli oleh struktur apapun, baik dari segi keindahan susunan maupun eratnya pertalian. Di akhir pembahasannya ia menunjukkan pengaruh kuat balaghah al-Quran pada jiwa dan hati yang sering dilupakan orang. Dia menganggap pengaruh kejiwaan ini sebagai salah satu wajah i’jaz al-Quran yang lahir dari sekumpulan keunikan balaghah yang dimilikinya.
 3.  AL-BAQILLANI (w. 403 H./1013 M.)
Dalam karyanya yang berjudul I’jaz al-Quran ia memaparkan bahwa balaghah dan keistimewaan bahasanya masuk dalam i’jaz al-Quran. akan tetapi, al-Baqillani tidak hanya membatasi segi i’jaz pada keunikan balaghah saja. Ia juga mengakui informasi al-Quran tentang hal gaib dan peristiwa depan serta pemberitaan orang-orang terdahulu sebelum nabi Muhammad sebagai segi i’jaz. Letak kemukjizatannya adalah bahwa berita ini disampaikan oleh orang yang buta huruf, tidak tahu baca tulis dan tidak pernah baca satu kitab pun sebelum al-Quran.
Dalam kitabnya tersebut al-Baqillani juga membandingkan khutbah dan surat Nabi serta kata-kata indah dari para sahabat yang dibandingkan dengan keindahan al-Quran. dia juga mengkritik secara sastrawi terhadap Muallaqah Imru’ al-Qais dan kasidah Lamiyyah al-Buhturi, dua kasidah panjang yang terbilang sebagai mutiara syair Arab.
Menurut al-Baqillani, i’jaz tidak bertumpu pada balaghah itu sendiri. Hal itu karena balaghah ada yang bisa diciptakan oleh manusia, sedangkan balaghah yang terdapat dalam al-Quran tidak bisa ditiru oleh manusia.
  4. QADHI ABDUL JABAR (w. 415 H./1025 M.)
Menurutnya, uslub al-Quran merupakan segi utama i’jaz, kefasihannya membuat bangsa Arab lemah hingga tidak mampu menandinginya. Dalam bukunya al-Mughni fi Abwab al-Tawhid wa al-A’dl, pada jilid yang ke 16 ia mengatakan bahwa fashahah adalah produk keistimewaan lafal dan makna. Qadhi Abdul Jabar tidak mengabaikan pentingnya makna, dia hanya menegaskan bahwa fashahahlah yang memberikan keistimewaan, sementara kefasihan al-Quran berada pada tingkat paling tinggi. Banyak pakar sebelumnya yang membahas masalah pemilihan kata dan penataannya, atau yang biasa disebut dengan nazham, dalam buku-buku yang mereka beri judul Nazham al-Quran. seperti buku al-Jahizh yang sudah tak ada bekasnya, buku al-Sijistani, al-Balkhi, dan Ibn al-Ikhsyid. Akan tetapi yang membahas masalah ini secara panjang lebar kemudian merumuskan secara teoritis dan metodelogis adalah al-Jurjani.


  5. ABDUL QAHIR AL-JURJANI
Melalui dua kitabnya yaitu: Dala’il al-I’jaz dan Asrar al-Balaghah, al-Jurjani mempertalikan masalah nazham dengan majaz-majaz balaghah dan pola-pola keindahan bad’i. Menurutnya kata tunggal itu tidak memiliki keistimewaan pada dasarnya. Demikian juga makna, tidak memiliki wujudnya sendiri tanpa kata-kata. Oleh karena itu, tidak mungkin menetapkan derajat balaghahnya dalam keadaan tunggal. Sebaliknya, derajat itu hanya mungkin diketahui dalam kondisi terhimpun dalam sebuah nazham (struktur). Dari sini jika susunan kata berubah maka berubah pula maknanya.
Atas dasar itu semua, uslub yang paling bagus adalah uslub yang mampu mewujudkan sebagus mungkin nazham bagi makna yang dimaksudkan. Yakni dengan cara memilih kata yang paling mampu mengekspresikan maksud dan meletakkannya dalam susunan yang paling laik bagi makna tersebut. Al-Quran dalam pandangan al-Jurjani menggunakan nazham paling bagus dan indah. Oleh karena itu, begitu mendengarnya orang Arab langsung menyadari bahwa mereka tidak mampu untuk mendatangkan yang semisalnya.
Dari sini al-Jurjani bisa dianggap sebagai salah satu pemikir muslim pertama yang mengkaji nazham al-Quran secara mendalam, menganalisanya secara panjang lebar dan memaparkan teori makna dalam kajian estetika dan stilistika Arab, jauh mendahului kajian-kajian Barat Modern. Setelah Jurjani muncul para pakar lain yang lebih sistematis dalam menulis topik ini, seperti Fakhruddin al-Razi dan al-Sakkaki.
  6. ZAMAKHSYARI (w. 538 H./1144 M.)
Di bidang tafsir tidak ada pakar yang lebih baik daripada al-Zamakhsyari dalam menggunakan ilmu Balaghah untuk memahami teks al-Quran, kemudian menyoroti i’jaz dan keindahan uslubnya. Tafsirnya al-Kasysyaf meski mengandung ide-ide muktazilah, tafsir ini tetap disanjung oleh banyak kalangan. Tafsirnya terus menyambung, mencakup seluruh al-Quran; ayat demi ayat. Setiap kalimat dan ungkapan dia kupas secara beruntun.
Maknanya dia tafsirkan, unsur-unsur uslubnya yang memberikan pengaruh keindahan dan balaghah yang luar biasa ia analisis. Selain itu dia juga berulang kali menunjukkan keutamaan nazham al-Quran yang unggul dan tiada bisa ditandingi oleh manusia.
Setelah Zamakhsyari, banyak pengarang muncul, namun mereka tidak memberikan sumbangan yang bearti terhadap pemahaman i’jaz. Dalam periode itu, ilmu Balaghah dibagi menjadi tiga bagian, yaitu ilmu Ma’ani, ilmu bad’i, dan ilmu Bayan. Akan tetapi apa yang meyusup ke dalam ilmu ini hanya berupa kerumitan yang mandul dan diskursus-diskursus yang gersang membuatnya semakin jauh dari maksud estetik dan sastrawi.[10]
C.     Kesimpulan
Dari pembahasan diatas penulis mengambil kesimpulan sebagai berikut :
1. Yang dimaksud dengan I’jaz ialah menampakkan kebenaran nabi dalam pengakuannya sebagai rasul dengan menampakkan kelemahan orang Arab untuk menghadapi mukjizatnya yang abadi, yaitu Al-qur’an , dan kelemahan generasi-generasi sesudah mereka.
2.  Yang dimaksud dengan I’jaz (kemukjizatan) al-Quran menurut para ahli adalah meliputi aspek aspek berikut ini :
1.      Kemukjizatan Bahasa
2.      Kemukjizatan Ilmiah
3.      Kemukjizatan Tasyri’
3.   Diantara tokoh-tokoh Ilmu I’jaz Al-Quran adalah :
1.   Al-Rummani                                   4.         Qadhi Abdul Jabbar
2.   Al-Khatabi                                     5.         Abdul Qahir Al-Jurjani
3.   Al-Baqillani                                    6.         dan lain-lain
DAFTAR PUSTAKA


Ahmad Warson Munawwir,Kamus Al-Munawwir, (Yogyakarta: Pustaka Progressif,1984)
Al-Qadhi Abdul Jabbar, Al-mughni fi abwab at-tauhid wa al adl, (Mesir : 1960) Juz 25
Badruddin Muhammad bin Abdillah  Az-Zarkasyi, al-Burhan fi ‘Ulum al-Quran,( Beirut : Dar al-Ma’rifah,  1972) juz 2 cet ke-3
Departemen Agama RI, Al-quran dan Terjemahnya ( Bandung : Syaamil )
Issa J. Boullata, al-Quran Yang Menakjubkan, (Ciputat: Lentera hati)
Manna Khalil al-Qattan,Studi Ilmu-Ilmu Al-qur’an, (Bogor,Litera Antar Nusa, 2001), cet. Ke-6
Mohammad Aly ash Shabuny, at-Tibyan Pengantar study al-Quran (Bandung :PT Al-Maarif, 1996 ),Cet. 4 h. 125
Nasr Hamid Abu Zaid, Tekstualitas Al-quran (Yogyakarta : LkiS. 2002) cet ke-2
Subhi As-shalih, Membahas ilmu-ilmu Al Qur’an, (Jakarta:Pustaka  Firdaus,2001) Cet. Ke-8


[1] Ahmad Warson Munawwir,Kamus aAl-Munawwir, (Yogyakarta : Pustaka Progessif, 1984),h 963
[2] Manna Khalil al-Qattan, Studi Ilmu-Ilmu Al-qur’an, (Bogor : Litera Antar Nusa,  2001), cet. Ke-6, h. 371
[3] Al-Qadhi Abdul Jabbar, Al-mughni fi abwab at-tauhid wa al adl, (Mesir : 1960) Juz 25, h. 99
[4] Badruddin Muhammad bin Abdillah  Az-Zarkasyi, al-Burhan fi ‘Ulum al-Quran,( Beirut : Dar al-Ma’rifah,  1972) juz 2 cet ke-3 h. 58  
[5] Mohammad Aly ash Shabuny, at-Tibyan Pengantar study al-Quran (Bandung :PT Al-Maarif, 1996 ),Cet. 4 h. 125
[6] Manna Khalil al-Qattan, Op Cit. h. 383
[7] Nasr Hamid Abu Zaid, Tekstualitas Al-quran (Yogyakarta : LkiS. 2002) cet ke-2 h. 189
[8] Departemen Agama RI, Al-quran dan Terjemahnya ( Bandung : Syaamil ) h. 305
[9] Subhi As-shalih, Membahas ilmu-ilmu Al Qur’an, (Jakarta:Pustaka Firdaus,2001) Cet. Ke-8, hal.421-422
[10] Issa J. Boullata, al-Quran Yang Menakjubkan, (Ciputat: Lentera hati), hal. 4-16